Anemia Zat Besi, Gejala dan Penggunaan Suplemen Zat Besi

1503888215044_crop_848x313Anemia Zat Besi, Gejala dan Penggunaan Suplemen Zat Besi

Anemia defisiensi besi adalah kondisi kekurangan nutrisi zat besi yang mengakibatkan penurunan jumlah sel darah merah. Anemia terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah yang sehat dan dapat berfungsi dengan baik. Dalam laman ini, anemia akibat kekurangan zat besi akan dibahas lebih dalam. Kekurangan zat besi dalam tubuh bisa menyebabkan anemia defisiensi besi. Penderita kondisi ini akan mengalami gejala-gejala, seperti letih, sesak napas, pusing atau sakit kepala, serta denyut jantung meningkat, akibat berkurangnya pasokan oksigen ke seluruh tubuh. 

Zat besi diperlukan tubuh untuk menghasilkan komponen sel darah merah yang dikenal sebagai hemoglobin. Hemoglobin di dalam sel darah merah dibutuhkan oleh tubuh untuk mengikat dan mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh organ. Selain itu juga berperan dalam pembuangan karbondioksida dari sel-sel tubuh di paru-paru. Jika tubuh manusia kekurangan sel darah merah, penyebaran oksigen dan pembuangan karbondioksida akan terganggu.

Gejala Yang Muncul Akibat Anemia Defisiensi Besi

Tingkat gejala anemia tergantung kepada seberapa cepat cadangan zat besi tubuh menurun. Ada penderita yang mengalami hampir semua gejala, sedangkan ada beberapa yang hanya merasa lelah. Berikut adalah gejala-gejala anemia yang umum terjadi:

  • Mudah atau lebih cepat lelah
  • Mudah tersinggung
  • Kurang berenergi
  • Muka pucat
  • Sesak napas
  • Sulit berkonsentrasi atau berpikir.
  • Pusing dan sakit kepala
  • Kaki dan tangan terasa dingin
  • Sensasi kesemutan pada kaki
  • Lidah membengkak atau terasa sakit
  • Sistem kekebalan tubuh menurun sehingga rentan terkena infeksi
  • Sakit pada dada
  • Jantung terasa berdetak dengan cepat

Tanda-tanda lain yang bisa muncul akibat anemia adalah kuku menjadi mudah patah, rambut rontok, dan nafsu makan yang menurun.

Jika Anda merasakan gejala-gejala di atas, segera temui dokter untuk memastikan langkah diagnosis anemia.

Zat besi bisa didapat dari makanan untuk memenuhi kebutuhan harian. Sumber zat besi pada makanan antara lain:

  • Kacang-kacangan.
  • Daging merah tanpa lemak.
  • Hati ayam dan sapi.
  • Kacang dan susu kedelai.
  • Tahu.
  • Tempe.
  • Beras merah.
  • Sayuran dengan daun hijau gelap, misalnya

Namun, jika asupan zat besi dari makanan tidak cukup, maka diperlukan suplemen penambah zat besi.

Tentang Zat Besi

Golongan Kelompok mineral
Kategori Obat bebas
Manfaat Mencegah dan mengobati defisiensi besi
Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak
Nama lain Ferrous sulfate, ferrous gluconate, sodium feredetate, ferrous fumarate
Bentuk obat Tablet, kapsul, sirup

Angka Kecukupan Gizi Zat Besi

Zat besi umumnya didapatkan oleh seseorang dari makanan. Suplemen baru dianjurkan untuk dikonsumsi jika tubuh kekurangan zat besi. Berikut ini adalah tabel tentang angka kecukupan zat besi untuk tiap orang:

Pria Dewasa
19 tahun ke atas 8 mg/hari
14-18 tahun 11 mg/hari
Wanita Dewasa
Hamil 27 mg/hari
Menyusui dengan usia di bawah 19 tahun 10 mg/hari
Meyusui dengan usia di atas 19 tahun 9 mg/hari
51 tahun ke atas 8 mg/hari
19-50 tahun 18 mg/hari
14-18 tahun 15 mg/hari
Anak-anak
9-13 tahun 8 mg/hari
4-8 tahun 10 mg/hari
1-3 tahun 7 mg/hari
7-12 bulan 11 mg/hari

Dosis maksimal konsumsi zat besi harian untuk dewasa dan anak-anak di atas 14 tahun adalah 45 mg/hari. Sedangkan bagi anak-anak di bawah 14 tahun, dosis maksimal adalah 40 mg/hari. Zat besi yang berasal dari makanan hewani lebih mudah diserap oleh tubuh dibanding makanan nabati. Mengonsumsi vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi oleh tubuh.

Peringatan:

  • Harap berhati-hati bagi penderita penyakit kronis.
  • Jangan mengonsumsi suplemen zat besi dan suplemen kalsium secara bersamaan. Setidaknya berikan jeda waktu yang cukup, yaitu sekitar satu hingga dua jam.
  • Suplemen zat besi sebaiknya dikonsumsi satu jam sebelum makan. Tapi jika menyebabkan efek samping gangguan pencernaan, bisa dikonsumsi setelah makan.
  • Obat antasida bisa menghambat penyerapan suplemen zat besi, jadi sebaiknya dikonsumsi pada waktu yang berbeda.
  • Suplemen zat besi bisa membuat tinja berwarna jauh lebih gelap dari biasanya. Jangan khawatir atau panik, karena hal ini umum dialami oleh mereka yang mengonsumsi suplemen zat besi.
  • Suplemen zat besi dapat dikonsumsi oleh wanita hamil, menyusui, atau yang mencoba memiliki anak. Meski demikian, pastikan penggunaan suplemen ini sesuai dengan anjuran dokter agar aman.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

IMG_20170512_173533_2280Dosis Zat Besi

  • Dosis umum untuk mengobati defisiensi zat besi adalah 130-195 mg per hari. Sedangkan dosis untuk mencegah defisiensi zat besi umumnya adalah 65 mg per hari.
  • Dosis suplemen zat besi disesuaikan dengan tingkat keparahan defisiensi zat besi dan kondisi kesehatan. Dosis bisa disesuaikan lagi setelah jangka waktu pemakaian tertentu dan pemeriksaan kadar zat besi di dalam tubuh dilakukan. Pada anak-anak, dosis juga akan disesuaikan dengan barat badan mereka.

Mengonsumsi Zat Besi dengan Benar

  • Bacalah petunjuk yang tertera pada kemasan suplemen zat besi dan ikuti anjuran dokter dalam mengonsumsinya.
  • Beri jarak waktu 2 jam setelah Anda mengonsumsi suplemen zat besi jika ingin mengonsumsi antasida.
  • Suplemen zat besi lebih mudah diserap aliran darah jika dikonsumsi satu jam sebelum makan atau saat perut masih kosong. Tapi jika Anda mengalami mual atau gejala gangguan pencernaan lainnya akibat suplemen ini, disarankan untuk mengonsumsinya setelah makan.
  • Hindari makanan atau minuman yang bisa menurunkan penyerapan zat besi oleh tubuh, seperti produk olahan susu, roti gandum, sereal, teh, kopi, atau susu.
  • Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Bagi pasien yang lupa mengonsumsi zat besi, disarankan untuk segera melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Interaksi Suplemen Zat Besi

Zat besi seringkali mengganggu penyerapan obat-obatan oleh tubuh dan menurunkan efektivitas obat-obatan tersebut. Beberapa obat yang dapat berinteraksi dengan suplemen zat besi adalah:

  • Antibiotik golongan tetracycline. Contohnya adalah minocycline, tetracycline, dan demeclocycline.
  • Antibiotik golongan quinolone. Contohnya adalah, enoxacin, trovafloxacin , norfloxacin, sparfloxacin, grepafloxacin, dan ciprofloxacin.
  • Bisphosphonate. Contohnya adalah etidronate, alendronate, etidronate, tiludronate, dan risedronate.
  • Penicillamine.
  • Levothyroxine.
  • Levodopa. 
  • Methyldopa.
  • Mycophenolate mofetil.

1496802318637_crop_936x273

Efek Samping  dan Bahaya Zat besi

Reaksi orang terhadap sebuah obat berbeda-beda. Meskipun suplemen zat besi memiliki manfaat yang baik bagi tubuh, tapi suplemen ini bisa juga menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang biasa terjadi adalah:

  • Tinja berwarna lebih gelap dari biasanya.
  • Konstipasi.
  • Mual, kram, atau sakit perut.
  • Diare.

Overdosis zat besi merupakan kejadian yang cukup sering terjadi, terutama pada anak-anak. Perlu diperhatikan bahwa overdosis akibat zat ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Beberapa tanda-tanda overdosis zat besi yang harus diperhatikan adalah:

  • Muntah berat.
  • Diare.
  • Kram perut.
  • Kulit dan kuku pucat atau kebiruan.
  • Lemah dan letih.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s