Inilah Obat Bebas Penyebab Stroke

Inilah Obat Bebas Penyebab Stroke

  • Jenis obat antidepresan, penghilang rasa sakit, alergi rhinitis, dan obat diare termasuk golongan obat antikolinergik. Obat golongan ini mempunyai efek pada sistem kolinergik tubuh yang mengatur jantung dan pencernaan. Peneliti meyakini obat antikolinergik juga melemahkan daya ingat seseorang dan membuat jantung berdegup lebih kencang atau tidak menentu dan menjebak darah di dalam jantung. Stroke akan terjadi apabila darah sudah mencapai otak dan membeku. Obat jenis ini termasuk paling banyak dikonsumsi di masyarakat dan sebuah studi mencatat bawha lebih dari 1,2 juta orang di Inggris mengalami stroke, artinya per tahun lebih dari 100.000 orang terserang penyakit ini.
  • Penelitian dari Universitas Aberdeen menunjukkan lebih dari 59 persen orang mengalami stroke dan 86 persen lebih kemungkinan besar meninggal usai stroke karena obat antikoligernik. Penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Epidemiology ini melibatkan 21.722 orang yang berusia antara 39 sampai 79 tahun. Para peneliti menguji pola konsumsi obat generik yang beredar di masyarakat, termasuk obat-obatan yang menggunakan resep, seperti Valium, Imodium, dan Piriton.
  • Lebih dari 37 persen peserta penelitian yang berumur sekitar 65 tahun meminum obat antiklorigenik setiap hari, dan lebih berisiko terkena stroke daripada minum dalam dosis yang tak sesuai resep.
  • Menurut peneliti, efek antiklorigenik yang paling kuat terdapat pada jenis obat untuk nyeri saraf dengan tingkat terserang stroke mencapai 59 persen, termasuk amitriptyline.
  • Angka tersebut lebih tinggi dari pecandu obat-obatan terlarang. Lalu obat pengurang rasa sakit seperti Codeine, Imodium dan atenolol, beta blocker, yang biasa digunakan untuk meredakan nyeri jantung, memiliki efek paling lemah. Sementara obat penenang pethidine dan beberapa antihistamin yang digunakan untuk mengobati alergi seperti alergi rhinitis memiliki efek samping menengah. Profesor Phyo Myint, penulis senior studi ini, mengatakan, bahwa penemuan ini bisa membantu para ahli untuk menemukan cara yang efektif untuk upaya pencegahan serangan stroke pada masyarakat.
  • Selain itu obat phenilpronolamin juga banyak disebut sebagai penyebab stroke. Tiap tahunnya Food and Drug Administration (FDA) Amerika melaporkan terjadi 200-400 kasus stroke hemoragik yang dikaitkan dengan penggunaan phenilpropanolamin (PPA). Pada tanggal 6 November 2000, FDA mengumumkan pelarangan peredaran produk obat yang mengandung PPA di Amerika. FDA merupakan Badan POM milik Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri PPA masih banyak ditemui di pasaran sebagai salah satu bahan aktif dalam obat flu. Alasan Badan POM mengizinkan penggunaan PPA karena dosis yang relatif kecil yaitu 15 mg. PPA pada dosis tersebut berfungsi untuk melegakan hidung tersumbat (dekongestan). Memang alasan penarikan PPA di Amerika karena PPA terkandung dalam obat pelangsing yang dikonsumsi dengan dosis 75-150 mg/hari. Pada dosis tersebut PPA bekerja menekan nafsu makan pada Sistem Saraf Pusat di otak. Bahkan pada beberapa kasus stroke yang terjadi di Amerika, korban mengkonsumsi PPA dengan jumlah overdosis (300-350 mg/hari).
  • Mekanisme kerja PPA dengan menciutkan pembuluh darah (vasokonstriksi). Pada dosis kecil (15 mg), efeknya terlokalisir pada hidung. Tetapi pada dosis besar, dapat terjadi vasokonstriksi sistemik di seluruh tubuh. Sehingga akan menyebabkan kenaikan tekanan darah yang signifikan dan dapat memicu pecahnya pembuluh darah otak alias stroke hemoragik.
  • Selain PPA, beberapa obat bebas seperti efedrin dan pseudoefedrin juga disinyalir mampu memicu terjadinya stroke. Efedrin dan pseudoefedrin banyak terdapat pada obat flu yang berfungsi sebagai dekongestan. Di samping itu efedrin dan pseudoefedrin juga dapat berefek sebagai stimulan yang bekerja di Sistem Saraf Pusat. Dalam jumlah berlebih, stimulan dapat menaikkan tekanan darah secara signifikan. Sebuah penelitian di Meksiko mengevaluasi 2500 kasus stroke. Diantaranya 22 kasus stroke disebabkan karena mengkonsumsi PPA, efedrin, dan pseudoefedrin. FDA Amerika pun pernah mengajukan usulan untuk menarik efedrin dari pasaran, namun usulan tersebut ditolak.
  • Efedrin merupakan golongan senyawa alkaloid yang berasal dari tanaman Epedra sinica. Di China dikenal dengan sebutan tanaman Ma Huang dan cukup sering digunakan dalam racikan obat tradisionalnya. Bagi Anda terutama yang mengidap hipertensi dan gemar berobat dengan chinese medicine usahakan untuk berhati-hati dan selalu memperhatikan komposisi bahan yang terdapat di dalamnya.
  • Satu lagi tanaman obat yang cukup familiar yaitu Ginkgo Biloba. Herbal ini dapat meningkatkan aliran darah ke otak sehingga meningkatkan daya ingat. Keterkaitan penggunaan Ginkgo biloba dan stroke masih memerlukan penelusuran yang lebih panjang. Publikasi sebuah penelitian menunjukkan Ginkgo biloba sebagai antioksidan, anti radang, dan pengencer darah yang berperan mencegah stroke serta memperbaiki kondisi pasca stroke iskemik. Namun publikasi tersebut juga memaparkan dalam dosis yang berlebihan Ginkgo biloba justru menyebabkan darah terlalu encer sehingga dapat menyebabkan pendarahan otak atau stroke hemoragik.
  • Beberapa obat golongan narkotika seperti heroin dan kokain serta golongan psikotropika misalnya amfetamin dapat pula menyebabkan stroke. Amfetamin sendiri merupakan senyawa sintetis turunan efedrin. Penggunaan amfetamin dan kokain menyebabkan jantung memompa lebih cepat dari biasanya sehingga tekanan darah meningkat. Jika terdapat pembuluh darah yang menipis di otak maka pembuluh darah tersebut dapat spontan pecah dan terjadi stroke hemoragik. Selain mempengaruhi jantung, kokain dan amfetamin juga mampu mengingkatkan aktivitas sistem saraf pusat di otak. Penyempitan pembuluh darah otak (vasokonstriksi) pun dapat terjadi akibat penggunaan kokain dan heroin.
  • Apabila digunakan secara intravena (suntikan ke pembuluh vena) terutama pada kondisi non-aseptis yang kerap dilakukan pada pecandu, heroin dan kokain dapat menyebabkan stroke iskemik. Penggunaan intravena memungkinkan masuknya bakteri ke dalam darah dan dapat berkembang pada klep jantung (endocarditis). Suatu saat perkembangan bakteri yang membentuk pelet/gumpalan kecil ini dapat lepas dan mengikuti peredaran darah. Jika perjalanan pelet tersebut sampai di pembuluh darah otak maka dapat menyumbat dan menimbulkan stroke iskemik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s